”Alhamdulillaah, setelah menemukan momen yang tepat, akhirnya saya dapat berbagi indahnya UTHB dan impian-impian saya bersama anggota keluarga, ayah, ibu dan adik2. Insya Allooh mulai pagi ini, kami sekeluarga telah melihat kehidupan dengan cara yang lebih positif dan berkomitmen melakukan hal-hal mulia. Thanks goes to Samsul Arifin dan kru Ummat Terbaik Hidup Berkah. Kami nantikan kehadirannya di Jawa Timur.” By: Akhmad Adiasta alumni UTHB #66 Semarang



Pekerjaan rasanya kok tidak pernah berhenti, dan mau diajak untuk rehat sejenak. Tumpukan pekerjaan rasanya terus mengalir, menyapa kita dalam setiap sudut kesempatan. Pekerjaan yang satu belum kelar, yang lain sudah menyusul. Meeting yang satu masih separoh jalan, sudah ditunggu jadwal meeting lainnya. Belum lagi, laporan ini itu yang sudah harus rampung minggu depan.
Marketing (pemasaran) adalah salah satu ujung tombak penjualan barang dan jasa. Setiap usaha memiliki cara dan keunikan tersendiri dalam menjalankannya, baik dengan cara konvensional (door to door), menempelkan publikasi, iklan di media cetak atau elektronik, mensponsori atau mengadakan event untuk mengumpulkan masyarakat, dll.
Di akhir zaman ini, praktik riba telah nampak di mana-mana. Dalam lingkup masyarakat terkecil hingga tataran negara praktik ini begitu merebak, baik di perbankan, transaksi bisnis, lembaga perkreditan, bahkan sampai arisan warga. Entah karena kaum muslimin bisa jadi tidak mengetahui hukum, bentuk dan bahaya riba, atau pun bisa jadi karena mereka sudah tahu, tetapi tetap juga dilanggar. Penyakit “wahn” (cinta dunia dan takut mati) telah menyebabkan manusia akhir zaman ini menghalalkan segala macam cara untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, termasuk dengan cara riba. Sungguh, benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama,
Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).
Hari esok, dalam pandangan siapapun, adalah waktu yang amat dekat; amat pendek; amat cepat kedatangannya; tak lebih dari beberapa jam saja setelah hari ini. Bagi Anda yang hendak melakukan perjalanan jauh esok hari, jika hanya hari ini waktu yang tersedia untuk persiapan, belum tentu cukup seharian bagi Anda mempersiapkan bekal untuk perjalanan itu.
“Pada akhirnya, satu-satunya keunggulan kompetitif yang dapat menopang perusahaan adalah hubungannya dengan pelanggan, partner bisnis dan karyawan….Sebuah komitmen untuk mengembangkan hubungan yang efektif yang memperkuat struktur organisasi tersebut dalam jangka panjang.”
Perjalanan hidup terus menggelinding; dan roda peradaban zaman terus bergerak menyusuri jalan yang teramat panjang. Dalam putaran itu, pengetahuan terus bermekaran dan rajutan ilmu tiap hari selalu hadir menyapa tanpa kenal letih. Itulah kenapa segenap insan dituntut untuk bisa menjadi manusia-manusia pembelajar : menjadi insan yang selalu terbuka dengan segenap wawasan baru dan limpahan informasi yang terus melaju. Menjadi insan yang selalu rindu untuk merengkuh sejumput pengetahuan, dan menjemput sekeping kebajikan dari bentangan ilmu yang terus mengalir.
Muslim manapun tentu amat berharap dapat meraih cinta suci Allah Rabbul ‘Izzati. Masalahnya, tak setiap Muslim benar-benar mewujudkan harapannya itu dengan sungguh-sungguh meraih cinta-Nya yang sejati. Sering harapannya itu hanya terbersit di lubuk hati dan sekadar terucap di ujung lisan, tidak sampai termanifestasikan dalam perbuatan. Padahal meraih cinta-apalagi cinta suci Ilahi-tentu mengandung konsekuensi dan butuh pembuktian, bukan sekadar klaim dan angan-angan. Lalu apa konsekuensi dan pembuktiannya?