<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ummat Terbaik Hidup Berkah &#124; Bisnis Online &#124; Training Motivasi</title>
	<atom:link href="http://www.hidupberkah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.hidupberkah.com</link>
	<description>Ummat Terbaik Hidup Berkah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Feb 2012 11:25:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mind-map-tool-ampuh-untuk-melejitkan-produktivitas-anda/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mind-map-tool-ampuh-untuk-melejitkan-produktivitas-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 11:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1331</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan rasanya kok tidak pernah berhenti, dan mau diajak untuk rehat sejenak. Tumpukan pekerjaan rasanya terus mengalir, menyapa kita dalam setiap sudut kesempatan. Pekerjaan yang satu belum kelar, yang lain sudah menyusul. Meeting yang satu masih separoh jalan, sudah ditunggu jadwal meeting lainnya. Belum lagi, laporan ini itu yang sudah harus rampung minggu depan. Panorama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2012/02/Mind_Map_Template_Mulit_Rnd_small.jpg" alt="Mind Map Template Mulit Rnd small Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda" width="150" />Pekerjaan rasanya kok tidak pernah berhenti, dan mau diajak untuk rehat sejenak. Tumpukan pekerjaan rasanya terus mengalir, menyapa kita dalam setiap sudut kesempatan. Pekerjaan yang satu belum kelar, yang lain sudah menyusul. Meeting yang satu masih separoh jalan, sudah ditunggu jadwal meeting lainnya. Belum lagi, laporan ini itu yang sudah harus rampung minggu depan.</p>
<p><span id="more-1331"></span>Panorama semacam diatas sejatinya banyak kita alami. Ditengah belantara pekerjaan yang terus menggelontor itu, kita kemudian tak jarang kehilangan arah. Kehilangan navigasi untuk menuntut kita ke jalan yang penuh dengan aroma produktivitas dan kreativitas yang berlimpah.</p>
<p>Dijalan itulah kemudian kita disapa dengan sebuat metode yang disebut <strong>MIND MAP</strong>. Apa itu mind map dan contoh praktis aplikasi-nya akan kita jelujuri di Senin pagi yang sangat indah ini (for me, every day is a beautiful day. Ndak tahu dengan Anda).</p>
<p>Mind map pada dasarnya merupakan sebuah cara untuk membantu kita membuat peta jalan secara visual. Visualisasi peta jalan ini diharapkan akan mendorong kita menghasilkan solusi pemecahan masalah dengan lebih optimal ataupun lebih kreatif.</p>
<p>Langkah praktis untuk membuatnya adalah seperti ini : bayangkan Anda akan melakukan sebuah proses personal development yang mampu membuat Anda makin produktif. Maka dengan mind map, langkah pertama yang Anda lakukan adalam membuat lingkaran dimana didalamnya terdapat tulisan “Personal Development”.</p>
<p>Lalu dari lingkaran sebagai titik sentral itu, Anda bisa membuat cabang-cabang garis baru, masing-masing dengan tema yang mendorong proses Personal Development. Misal masing-masing garis (line) itu berisikan : “Ikut Kursus Manajemen Bisnis di IPPM”, “Mencari Mentor yang Berpengalaman”, “Membaca buku”, “Rajin visit ke blog Strategi Manajemen” atau “Aktif mengaplikasikan teknik manajemen”.</p>
<p>Kemudian masing-masing garis tema itu, juga bisa dikembangkan lagi dalam cabang garis yang lebih detil. Misal dalam tema “Visit Blog Strategi”, Anda bisa membuat cabang-cabang garis (line) baru, masing-masing berisikan tulisan : “Read”, “Print the article”, “Share and Discuss”. Begitu seterusnya, dan ini juga dilakukan untuk semua tema seperti yang dicontohkan diatas.</p>
<p>Contoh gambar visual sederhana untuk teknik mind map bisa dilihat dalam diagram berikut.</p>
<p><a href="http://strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2012/01/mind-map-example-1.jpg"><img src="http://strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2012/01/mind-map-example-1.jpg" alt="mind map example 1 Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda"  title="Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda" /></a></p>
<p>Contoh diatas menggambarkan sebuah proses mind map yang simpel : didalamnya dipetakan tentang apa saja yang perlu dikerjakan sehubungan dengan rencana kepergian ke US (US trip).</p>
<p>Seperti yang terlihat dalam contoh diatas, proses visualisasi gagasan melalui mind map ini bisa dengan mudah dilakukan di atas sehelai kertas dan cukup dengan sebuah pensil.</p>
<p>Contoh lain berikutnya ini adalah mind map untuk persiapan melakukan job interview.</p>
<p><a href="http://strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2012/01/preparing-for-a-job-interview-mind-map-by-tony-buzan.gif"><img src="http://strategimanajemen.net/apps23/wp-content/uploads/2012/01/preparing-for-a-job-interview-mind-map-by-tony-buzan.gif" alt="preparing for a job interview mind map by tony buzan Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda"  title="Mind Map : Tool Ampuh untuk Melejitkan Produktivitas Anda" /></a></p>
<p>Manfaat dari teknik mind map ini adalah membantu kita untuk memvisualkan gagasan pemecahan masalah atau rencana kerja secara komprehensif. Dengan cara visualisasi semacam ini, otak kita didorong untuk mampu berpikir secara lebih integratif.</p>
<p>Jika dipetakan secara detil, maka visualisasi gagasan dalam mind map itu akan mampu menuntun kita untuk memetakan penyelesaian sebuah tugas/projek/pekerjaan dengan optimal dan cepat. Seringkali visualisasi mind map dalam satu halaman ini yang powerful ini bisa disusun hanya dalam hitungan menit.</p>
<p>Mind map artinya adalah “peta pikiran”. Jika dipraktekkan, mind map ini memang benar-benar akan membantu otak dan pikiran kita dalam menyusun “peta” yang komprehensif dan powerful dalam menuntaskan pekerjaan.</p>
<p>Sebagai sebuah latihan, mungkin segera setelah membaca artikel ini, silakan Anda ambil sehelai kertas dan sebuah pensil. Lalu coba gambarkan mind map untuk memetakan jalan hidup Anda 10 tahun ke depan. Mudah-mudahan gambar mind map-nya menghasil bentuk visual yang mak nyos.</p>
<p>sumber: <a href="http://strategimanajemen.net/2012/01/23/mind-map-tool-ampuh-untuk-melejitkan-produktivitas-anda/">http://strategimanajemen.net/2012/01/23/mind-map-tool-ampuh-untuk-melejitkan-produktivitas-anda/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mind-map-tool-ampuh-untuk-melejitkan-produktivitas-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untung Tanpa Bias Marketing</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/untung-tanpa-bias-marketing/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/untung-tanpa-bias-marketing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 10:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1326</guid>
		<description><![CDATA[Marketing (pemasaran) adalah salah satu ujung tombak penjualan barang dan jasa. Setiap usaha memiliki cara dan keunikan tersendiri dalam menjalankannya, baik dengan cara konvensional (door to door), menempelkan publikasi, iklan di media cetak atau elektronik, mensponsori atau mengadakan event untuk mengumpulkan masyarakat, dll. Persaingan usaha yang begitu kuat di era saat ini membuat banyak marketer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Untung Tanpa Bias Marketing" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2012/02/336276-34015-61.jpg" alt="336276 34015 61 Untung Tanpa Bias Marketing" width="150" />Marketing (pemasaran) adalah salah satu ujung tombak penjualan barang dan jasa. Setiap usaha memiliki cara dan keunikan tersendiri dalam menjalankannya, baik dengan cara konvensional (door to door), menempelkan publikasi, iklan di media cetak atau elektronik, mensponsori atau mengadakan event untuk mengumpulkan masyarakat, dll.</p>
<div>
<p><span id="more-1326"></span>Persaingan usaha yang begitu kuat di era saat ini membuat banyak marketer menggunakan bermacam strategi untuk mendongkrak penjualan. Sayangnya, karena ada “pertarungan” yang kurang sehat antar produk, tidak sedikit para marketer terperangkap menggunakan “bias marketing”. Misalnya pada persaingan promo produk operator seluler, dimana saat ini persaingan terfokus pada pemberian biaya murah untuk setiap penggunaan baik sms, telpon maupun internetan melalui telpon selular. Iklan di berbagai media dihiasi promo yang gencar dari masing-masing perusahaan penyedia jasa ini dengan berbagai macam tawarannya. Jika benar apa yang dipromokan, tentu konsumen akan senang sekali.</p>
<p>Hanya saja iklan yang ditawarkan tidak sepenuhnya ditampilkan atau disampaikan seluruhnya, ada catatan tersendiri yaitu “sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku”. Inilah yang membuat sebagian konsumen merasa tertipu dengan program seperti ini. Dari data pengaduan yang diterima YLKI, pengaduan telekomunikasi selalu berada dalam 5 kelompok pengaduan terbesar. Dari laporan yang dirilis YLKI menyoroti Permasalahan Konsumen Telekomunikasi disebutkan “Para operator berlomba melakukan perang tarif. Melalui iklan yang sangat masif, operator mempromosikan tarif yang sangat murah, bahkan berani menyatakan tarif 0,000…1 per detik. Namun berbagai promosi tersebut sangat <em>tricky</em>. Ada syarat dan ketentuan yang hanya dapat dilihat di website operator tersebut.” (<a href="http://www.ylki.or.id/">www.ylki.or.id</a>). Inilah yang perlu dikritisi, karena berpotensi menghilangkan keberkahan. Lho kok bisa?</p>
<p>Islam melarang “bias markerting” seperti yang diterangkan dalam hadits riwayat Hakim bin Hizam ra.: “<em>Dari Nabi saw. beliau bersabda: Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Apabila mereka jujur dan mau menerangkan (keadaan barang), mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Dan jika mereka bohong dan menutupi (cacat barang), akan dihapuskan keberkahan jual beli mereka” </em>(Shahih Muslim No. 2825).</p>
<p>“Cacat barang” bisa juga diartikan informasi tentang program promo yang diberlakukan, karena ada saatnya menggunakan produk tersebut dengan mendapatkan biaya yang murah dan kadangkalanya harus mengeluarkan biaya yang tinggi, atau menyebutkan bahwa sebelum mendapatkan penggunaan biaya yang murah, maka pengguna harus registrasi terlebih dahulu atau mengeluarkan biaya sekian dan sekian terlebih dahulu. Intinya informasi program promo harus benar-benar diketahui oleh konsumen sebelum menggunakan produk kartu seluler atau lainnya.</p>
<p>“<em>Tidak halal seseorang menjual suatu perdagangan, melainkan dia harus menjelaskan ciri perdagangannya itu; dan tidak halal seseorang yang mengetahuinya, melainkan dia harus menjelaskannya</em>.” (Riwayat Hakim dan Baihaqi)</p>
<p>Jadi, agar bisnis kita penuh ‘berkat’ dan berkah, mari kita tinggalkan “bias marketing” dan bersainglah dalam kebaikan marketing, yakni pada sesuatu yang benar-benar bermanfaat lebih baik untuk konsumen.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Dicky Zulkarnain, ST., MM<br />
</em><em>Koordinator Lajnah Khusus Pengusaha (d.h. GTP) HTI Daerah Solo Raya<br />
</em><em>Praktisi Bisnis Islami Bidang Busana Muslimah</em></p>
<p>sumber: <a href="http://pengusaharindusyariah.com/?p=107">http://pengusaharindusyariah.com/?p=107</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/untung-tanpa-bias-marketing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Tiga Orang Berjanggut</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/kisah-tiga-orang-berjanggut/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/kisah-tiga-orang-berjanggut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 08:07:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1309</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata, &#8221; Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Kisah Tiga Orang Berjanggut" src="http://1.bp.blogspot.com/-sUYCE4LVPqI/TbIh_XNT_0I/AAAAAAAAAkU/renvGbYF9ww/s1600/love-never%2Bfails.jpg" alt="love never%2Bfails Kisah Tiga Orang Berjanggut" width="150" /></p>
<p style="text-align: left;" align="center">Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.</p>
<p><span id="more-1309"></span>Wanita itu berkata, &#8221; Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut. Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, &#8221; Apakah suamimu sudah pulang ? &#8221; Wanita itu menjawab, &#8221; Belum, dia sedang keluar. &#8221; Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali &#8220;, kata pria itu.</p>
<p>Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, &#8221; Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini. Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam &#8220;.</p>
<p>&#8221; Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama &#8220;, kata pria itu hampir bersamaan. &#8221; Lho, kenapa ?&#8221; tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seorang pria itu berkata, &#8221; Nama dia Kekayaan,&#8221; katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, &#8221; Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu ?&#8221;</p>
<p>Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminyapun merasa heran. &#8221; Ohho &#8230; menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. A<strong>ku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.&#8221;</strong> Istrinya tak setuju dengan pilihan itu.<strong> </strong>Ia bertanya,<strong> &#8221; Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen kebun kita.&#8221;</strong></p>
<p>Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. &#8221; <strong>Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam ? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta.&#8221; Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. &#8220;</strong> Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.&#8221;</p>
<p>Wanita itu kembali keluar, dan bertanya kepada 3 pria itu. &#8221; Siapa diantara Anda yang bernama Cinta ? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.&#8221; Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho .. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan &#8220;<strong> Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga ?&#8221;</strong></p>
<p>Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. &#8221; Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemanapun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.&#8221;</p>
<p>(Just Share&#8230; <a href="http://www.pengobatan.com">www.pengobatan.com</a>)</p>
<p>Kami sangat ingin membantu Anda untuk mewujudkan ketiga hal tersebut, dapat diraih tanpa meninggalkan yang lain, mungkin salah satu jalannya melalui program kami yaitu</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>Hidup Berlimpah Hidup Berkah (HBHB) </strong></p>
<p><em>“Sebuah pendalaman pasca UTHB selama 3 hari 3 malam Anda akan belajar bagaimana caranya menjadi</em><strong><em> MAGNET ORANG</em></strong><em> dan </em><strong><em>MAGNET UANG</em></strong><em> sehingga Anda akan mampu melakukan kebaikan apapun karena semua sumber daya sudah ada dalam kendali Anda.”</em></p>
<p><strong>Hari / Tanggal</strong> : Jum’at – Ahad, 17 &#8211; 19Februari 2012<br />
<strong>Tempat</strong> : <strong>Hotel Campago Resort, Jl. Cempaka No. 1 Bukittinggi</strong><br />
<strong>Waktu</strong> : 3 (tiga) hari 3 (tiga) malam<br />
<strong>B iaya: Rp. 4.500.000,- (Sudah termasuk biaya penginapan peserta dan Jemput-Antar Bandara International Minangkabau – Hotel Campago Bukittinggi)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/kisah-tiga-orang-berjanggut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisnis Berkah Tanpa Riba</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/bisnis-berkah-tanpa-riba/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/bisnis-berkah-tanpa-riba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 08:07:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1303</guid>
		<description><![CDATA[Di akhir zaman ini, praktik riba telah nampak di mana-mana. Dalam lingkup masyarakat  terkecil hingga tataran negara praktik ini begitu merebak, baik di perbankan, transaksi bisnis, lembaga perkreditan, bahkan sampai arisan warga. Entah karena kaum muslimin bisa jadi tidak mengetahui hukum, bentuk dan bahaya riba, atau pun bisa jadi karena mereka sudah tahu, tetapi tetap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Bisnis Berkah Tanpa Riba" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2011/12/Riba.jpg" alt="Riba Bisnis Berkah Tanpa Riba" width="150" />Di akhir zaman ini, praktik riba telah nampak di mana-mana. Dalam lingkup masyarakat  terkecil hingga tataran negara praktik ini begitu merebak, baik di perbankan, transaksi bisnis, lembaga perkreditan, bahkan sampai arisan warga. Entah karena kaum muslimin bisa jadi tidak mengetahui hukum, bentuk dan bahaya riba, atau pun bisa jadi karena mereka sudah tahu, tetapi tetap juga dilanggar. Penyakit “wahn” (cinta dunia dan takut mati) telah menyebabkan manusia akhir zaman ini menghalalkan segala macam cara untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, termasuk dengan cara riba. Sungguh, benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallama,</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span id="more-1303"></span>“<em>Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram</em>.”<strong> (HR. Bukhari).</strong></p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong>“</strong><em>Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya mereka memakan riba. Ketika beliau Saw ditanya, ‘Apakah semua orang (melakukannya)?’ Maka beliau Saw menjawab, ‘Barangsiapa yang tidak memakannya dari kalangan mereka maka ia tetap terkena getahnya.</em><strong>” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i &amp; Ibnu Majah).</strong><strong></strong></p>
<p>Oleh karena itu, sangat penting materi tentang riba disampaikan kepada kaum muslimin agar tidak terjebak pada transaksi ribawi dengan segala bentuknya, apalagi bagi para pengusaha yang akrab melakukan transaksi bisnis dan mainstreamnya sangat lekat dengan transaksi ribawi. Hal ini penting dipahami agar bisnis yang dilakukan penuh dengan keberkahan dan diridhai Allah SWT.</p>
<p>Riba dalam dunia bisnis biasanya banyak terkait dengan masalah permodalan dan model transaksi jual-beli. Beberapa contoh riba yang sering terjadi dalam transaksi bisnis :</p>
<ul>
<li>Pinjaman dengan bunga dan denda. Misalnya: Seorang pengusaha berhutang kepada bank atau pribadi sebesar Rp 10.000.000 dalam tempo 1 bulan dengan bunga 10% sehingga pembayaran hutangnya menjadi Rp 11.000.000. Bila terjadi keterlambatan pembayaran maka akan dikenai denda Rp 1.000.000 per bulan. Ini termasuk<em>riba dain</em> (riba hutang-piutang). Menurut sebagian ulama <em>riba dain</em> adalah bagian dari <em>riba nasi’ah</em>.</li>
<li>Pinjaman tanpa bunga tetapi ada denda. Misalnya: Seorang pengusaha berhutang kepada yayasan sebesar Rp 10.000.000 dengan bunga 0% dalam tempo 1 tahun. Namun pihak yayasan akan memberikan denda (misal 5% per bulan) bila terjadi keterlambatan pembayaran. Ini termasuk <em>riba dain</em>.</li>
<li>Bank meminjamkan uang kepada pengusaha tanpa bunga  sebagai modal usaha dengan syarat pihak bank mendapat prosentase keuntungan yang ditetapkan di awal (tidak peduli apakah usaha untung atau rugi) dan nominal hutang tetap dikembalikan secara utuh. Ini termasuk <em>riba dain</em>.</li>
</ul>
<ul>
<li>Bank memberikan modal kepada pengusaha dengan akad “bagi hasil”. Rincian ketentuannya pihak pengusaha harus mengembalikan modalnya kepada bank per bulan ditambah dengan prosentase keuntungan yang telah ditetapkan di awal (tidak peduli apakah usaha untung atau rugi). Ini termasuk <em>riba dain</em>.</li>
<li>Transaksi jual-beli emas dan perak dengan uang secara tidak kontan (dikreditkan). Ini  termasuk <em>riba nasi’ah</em>.</li>
<li>Menjual barang secara tempo atau kredit, tetapi ketika terjadi penundaan atau keterlambatan pembayaran dikenai denda. Ini termasuk riba nasi’ah.</li>
<li>Dan masih banyak transaksi bisnis ribawi lainnya yang detailnya tidak bisa disampaikan dalam tulisan singkat ini.</li>
</ul>
<p>Dalam konteks bisnis, selain hukum tentang riba maka harus diperhatikan juga aturan syariah Islam terkait lainnya. Kapitalisme sangat kental aspek ekonominya dan pengaruhnya sudah berurat-akar di tengah masyarakat. Ketika kita berniat menekuni dunia bisnis, kita harus benar-benar teliti pada seluruh aspeknya agar tidak menyalahi aturan Allah SWT. Misalnya, bagaimana hukum tentang perseroan terbatas? Bagaimana akad pemasaran dengan pola leasing atau akad sewa-beli? Bagaimana hukum pemasaran dengan pola <em>multi level marketing</em>? Bagaimana dengan dua akad dalam satu transaksi? Bagaimana transaksi dengan menempatkan agunan pada barang yang diperjualbelikan? Dan masih banyak lagi yang perlu didetailkan. Tentunya tulisan ini terlalu sempit untuk menjelaskan itu semua.</p>
<p>Lalu bagaimana solusi praktis untuk mengatasi permasalahan permodalan  dalam dunia bisnis agar tidak terjebak riba? Pola yang ditawarkan Islam adalah dengan model syirkah. Salah satunya dengan <em>syirkah mudharabah</em> (kerjasama bagi hasil). <em>Syirkah </em>m<em>udharabah</em> adalah kerja sama antara dua pihak, yaitu pemodal (<em>shohibul maal</em>) dan pengelola (<em>mudharib</em>). <em>Shohibul maal</em> akan memasukkan modalnya pada suatu usaha yang dikelola oleh <em>mudharib</em>. kemudian <em>mudharib</em>mengelola usaha secara profesional dengan target menghasilkan keuntungan. Dalam <em>syirkah mudharabah</em> tidak hanya bagi untung, tetapi juga bagi rugi apabila dalam perjalanan usahanya mengalami kerugian.</p>
<p>Dalam sebuah pertemuan training kewirausahaan yang saya kelola, peserta memunculkan pertanyaan, <em>mudharabah</em>-nya sih sudah paham, tetapi pemodalnya siapa dong? Nah, di sinilah perlu kerja cerdas dan kerja keras. Masih banyak peluang yang bisa kita optimalkan. Kita bisa memakai modal pribadi atau kita bisa menawarkan proposal bisnis kepada keluarga dan teman yang percaya kepada kita. Di samping itu, bisa juga ditawarkan kepada pihak lain (pribadi maupun lembaga) yang memiliki uang, tetapi bingung mau digunakan untuk apa uangnya tersebut. Orang seperti ini <em>insya Allah</em> berpeluang besar menerima proposal usaha yang kita tawarkan. Atau bisa juga kita tawarkan kepada investor profesional yang tentunya tantangannya lebih tinggi dibanding yang lainnya. Kalau dengan cara-cara tadi juga belum berhasil, bersabarlah dan jangan sekali-kali balik lagi menceburkan diri dalam kubangan riba. Allah SWT akan selalu bersama orang-orang yang sabar. Teruslah kerja cerdas dan kerja keras, atau kita mati karena mengusahakan yang benar. <em>Man jadda wa jada</em>.</p>
<p>Demikianlah, penjelasan singkat mengenai riba. Cukuplah hadits dari Sahabat Jabir  menjadi peringatan bagi kita, ia berkata, “<em>Rasulullah </em>Shallallahu ‘alaihi wasallama<em> </em><em>melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” dan Beliau </em>Shallallahu ‘alaihi wasallama<em>bersabda, “Mereka semua sama.”</em> (HR. Muslim).</p>
<p style="padding-left: 30px;">Begitu pula hadits dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallama bersabda, “<em>Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.”</em> <strong>(HR Thabrani).</strong></p>
<p><em>Wallahu a’lamu.</em></p>
<p><strong>Oleh:</strong><br />
<strong>Agung Wisnuwardana</strong><br />
<strong><em>Revolusioner Inspirator – CEO Assalam Center</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/bisnis-berkah-tanpa-riba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memadukan Ilmu dan Amal</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/memadukan-ilmu-dan-amal/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/memadukan-ilmu-dan-amal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 07:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1299</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Bathah  menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207). Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Memadukan Ilmu dan Amal" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2012/02/penuntut-ilmu.jpg" alt="penuntut ilmu Memadukan Ilmu dan Amal" width="150" />Ibnu Bathah  menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).</p>
<div>
<p><span id="more-1299"></span>Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)</p>
<p>Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.</p>
<p>Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).</p>
<p>Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.</p>
<p>Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.</p>
<p>Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).</p>
<p>Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p>Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab. [] <strong>abi</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/memadukan-ilmu-dan-amal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Esok</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/hari-esok/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/hari-esok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 07:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1246</guid>
		<description><![CDATA[Hari esok, dalam pandangan siapapun, adalah waktu yang amat dekat; amat pendek; amat cepat kedatangannya; tak lebih dari beberapa jam saja setelah hari ini. Bagi Anda yang hendak melakukan perjalanan jauh esok hari, jika hanya hari ini waktu yang tersedia untuk persiapan, belum tentu cukup seharian bagi Anda mempersiapkan bekal untuk perjalanan itu. Apalagi perjalanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Hari Esok" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2012/01/today_makes_tomorrow.jpg" alt="today makes tomorrow Hari Esok" width="150" />Hari esok, dalam pandangan siapapun, adalah waktu yang amat dekat; amat pendek; amat cepat kedatangannya; tak lebih dari beberapa jam saja setelah hari ini. Bagi Anda yang hendak melakukan perjalanan jauh esok hari, jika hanya hari ini waktu yang tersedia untuk persiapan, belum tentu cukup seharian bagi Anda mempersiapkan bekal untuk perjalanan itu.</p>
<p><span id="more-1246"></span>Apalagi perjalanan itu dalam rangka bertemu dengan orang yang selama ini Anda hormati, Anda agungkan sekaligus Anda segani. Katakanlah orang yang hendak ditemui itu adalah atasan Anda di kantor, atau mungkin pejabat tinggi di kota Anda. Esok hari itu mereka hendak menanyai, ’menginterogasi’ sekaligus meminta pertanggungjawabkan amanah yang telah mereka berikan kepada Anda. Di hadapan merekalah esok hari, nasib Anda ditentukan; apakah berbuah manis dan membahagiakan atau justru pahit dan menyakitkan; apakah mendapatkan penghargaan atau malah dipecat dari jabatan dan pekerjaan. Menghadapi peristiwa penting dan menentukan itu esok hari, tentu amatlah mendebarkan. Lebih mendebarkan lagi jika selama menjalankan amanah itu Anda merasa terlalu banyak melakukan kelalaian dan membuat kesalahan.</p>
<p>Atau, katakanlah esok hari itu Anda akan menghadapi sidang ujian yang menentukan masa depan hidup Anda. Kelulusan Anda esok hari dalam sidang ujian itu menentukan kesuksesan hidup Anda selanjutnya. Sebaliknya, kegagalan Anda dalam ujian esok hari, menjadikan Anda pun bakal gagal meraih kesuksesan hidup berikutnya. Menghadapi peristiwa penting dan menentukan itu esok hari, tentu pula amat mendebarkan. Lebih mendebarkan lagi jika untuk menghadapi sidang ujian esok hari itu, Anda merasa kurang persiapan, karena waktu yang Anda miliki untuk persiapan itu hanya hari ini.</p>
<div>
<p>****<br />
Membincangkan esok hari, juga ihwal menyiapkan bekal di perjalanan, sekaligus persiapan menghadapi pertanggungjawaban atau ujian sidang seperti di atas, tentu menarik jika dikaitkan dengan firman Allah SWT (yang artinya): <em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah dia perbuat (sebagai bekal) untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahaawas atas apa saja yang kalian lakukan</em> (TQS al-Hasyr [59]: 18).</p>
<p>Imam ath-Thabari, Imam al-Alusi, Imam az-Zamakhsyari, Imam Abu Saud dan para mufassir lainnya dalam kitab tafsirnya masing-masing umumnya sepakat, bahwa yang dimaksud <em>hari esok</em> dalam ayat di atas adalah <em>Hari Kiamat</em> (Lihat antara lain: Ath-Thabari, <em>Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an</em>, XXIII/297).</p>
<p>Mengapa Hari Kiamat Allah SWT istilahkan dengan <em>hari esok</em>? Tidak lain karena begitu dekatnya Hari Kiamat itu sehingga laksana hari esok. Dengan kata lain, kehidupan dunia ibarat hari ini, sementara kehidupan akhirat ibarat hari esok (Al-Alusi, <em>Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an wa as-Sab’ al-Matsani</em>, XX/439).</p>
<p>Bagaimana membayangkan Hari Kiamat itu sebagai peristiwa yang amat dekat laksana hari esok? Pasalnya, kebanyakan manusia sepertinya menganggap Hari Kiamat itu adalah peristiwa masa depan; peristiwa yang masih jauh sekali dan masih sangat lama, entah kapan. Karena itu, kebanyakan manusia sering melupakan kepastian kedatangan Hari Kiamat. Buktinya, hanya sedikit di antara manusia yang benar-benar mempersiapkan diri menghadapi peristiwa mahapenting ini; peristiwa yang justru paling menentukan dalam seluruh fase kehidupan manusia sejak di alam ruh, alam rahim, alam dunia, alam barzakh dan tentu alam akhirat. Pada fase inilah ujung dari segala. Pada fase ini pula akhir nasib manusia, apakah selamat atau celaka; apakah masuk surga atau masuk neraka; apakah bakal mereguk kebahagiaan abadi atau kesengsaraan tiada henti. Karena itu, sejatinya hari esok (baca: Hari Kiamat) itu adalah hari yang paling mendebarkan bagi seorang manusia selama hidupnya. Anehnya, perasaan demikian tampaknya hanya dirasakan oleh sedikit manusia; kebanyakan mereka seolah tenang-tenang saja tanpa mempersiapkan diri. Mungkin karena, sekali lagi, tak terbayangkan pada kebanyakan manusia, bahwa dekatnya kedatangan Hari Kiamat itu seperti dekatnya kedatangan hari esok!</p>
<p>Untuk membayangkan betapa dekatnya Hari Kiamat ini sehingga Allah SWT menyebutnya dengan esok hari, mari kita merenung sejenak. Ingatlah dan bayangkanlah kembali masa kecil Anda, saat usia TK atau SD, lengkap dengan seluruh pengalaman manis atau pahit. Masih bisa terbayang dengan jelas di pelupuk mata Anda, bukan? Padahal saat ini usia Anda mungkin ada yang 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, atau mungkin 60 tahun. Sebagian mungkin sudah punya anak bahkan cucu. Namun, saat membayangkan masa kecil, sepertinya hal itu baru kemarin Anda alami. Artinya, usia 20, 30, 40, atau 60 tahun sesungguhnya bukanlah usia yang panjang. Rentang waktu tersebut sesungguhnya amatlah pendek.</p>
<p>Tentu akan terasa lebih pendek lagi jika usia kita hari ini kita bandingkan dengan jarak zaman kita dengan zaman Baginda Rasulullah saw., misalnya, yang memiliki rentang waktu lebih dari 14 abad lalu. Apalagi jika usia kita yang rata-rata 60-70 tahun itu kita bandingkan dengan rentang waktu penciptaan Adam as., entah puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu tahun lalu. Bandingkan pula usia kita hari ini dengan usia jagad raya yang menurut para ahli diciptakan oleh Allah SWT miliaran tahun yang lalu. Andai usia dunia yang miliaran tahun itu kita tarik sebagai garis lurus, lalu kita bandingkan dengan usia manusia yang hanya 60-70 tahun, tentu usia manusia tersebut hanya setitik noktah yang tidak kelihatan dibandingkan dengan panjangnya garis—mungkin miliaran kilometer—yang mencerminkan sangat panjangnya usia jagad raya ini. Dengan kata lain, sesungguhnya betapa cepatnya manusia hidup di dunia ini dibandingkan dengan usia jagad raya ini. Padahal miliaran tahun usia jagad raya ini pun amatlah singkat di mata Allah SWT. Maka dari itu, Allah SWT menyebut tibanya Hari Kiamat—sebagai ujung kehidupan dunia ini—dengan istilah <em>hari esok</em>. Bahkan karena begitu amat cepat kedatangan Hari Kiamat itu, Allah SWT sampai berfirman (yang artinya): <em>Tidaklah (waktu kedatangan) Hari Kiamat itu kecuali seperti kedipan mata atau lebih cepat dari itu</em> (QS an-Nahl [16]: 77).</p>
<p>Jadi apakah kita masih menganggap usia jagad raya ini masih amat panjang; kedatangan Hari Kiamat itu masih sangat jauh; dan hidup di dunia ini masih cukup lama? Baiklah jika anggapan dan pandangan kita masih seperti itu. Lalu bagaimana dengan kematian kita yang amat rahasia. Bukankah itu bisa terjadi kapan saja, termasuk esok hari?! Sudahkah kita mempersiapkan diri?!</p>
<p><em>Wama tawfiqi illa bilLah</em>. <strong>[Arief B. Iskandar]</strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/hari-esok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Keunggulan Kompetitif dengan Relationship Management</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-keunggulan-kompetitif-dengan-relationship-management/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-keunggulan-kompetitif-dengan-relationship-management/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 08:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kiat Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[karyawan]]></category>
		<category><![CDATA[relationship]]></category>
		<category><![CDATA[stakeholder]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[“Pada akhirnya, satu-satunya keunggulan kompetitif yang dapat menopang perusahaan adalah hubungannya dengan pelanggan, partner bisnis dan karyawan….Sebuah komitmen untuk mengembangkan hubungan yang efektif yang memperkuat struktur organisasi tersebut dalam jangka panjang.&#8221; [James P. Masciarelli, Are You Managing Your Relationship, dalam Secrets of Customer Relationship Management, James G. Barnes] Potongan kalimat di atas, mengingatkan dan menginspirasi saya saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="  Meraih Keunggulan Kompetitif dengan Relationship Management" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2012/01/crm.jpg" alt="crm   Meraih Keunggulan Kompetitif dengan Relationship Management" width="150" /><em>“Pada akhirnya, satu-satunya keunggulan kompetitif yang dapat menopang perusahaan adalah hubungannya dengan pelanggan, partner bisnis dan karyawan….Sebuah komitmen untuk mengembangkan hubungan yang efektif yang memperkuat struktur organisasi tersebut dalam jangka panjang.&#8221;</em><br />
<strong>[James P. Masciarelli, <em>Are You Managing Your Relationship</em>, dalam <em>Secrets of Customer Relationship Management</em>, James G. Barnes]</strong></p>
<p><span id="more-1241"></span>Potongan kalimat di atas, mengingatkan dan menginspirasi saya saat beberapa waktu lalu saya bersama seorang direksi berdiskusi tentang kondisi dan sikap karyawan dalam menangani klien perusahaan kami. Diskusi itu mendorong saya untuk mengingat dan membuka file-file lama tentang konsep hubungan yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan atau organisasi apapun. Dan ternyata, untuk mempraktekkan pemasaran berbasis hubungan, eksekutif dan pemimpin perusahaan harus fokus pada pengelolaan dan peningkatan hubungan sejati dengan para<em>stakeholder</em>, yakni pelanggan; pemasok; vendor; pemodal, komunitas dan yang penting lagi adalah karyawan.</p>
<p>Para karyawan adalah kelompok yang sangat penting bagi sukses sebuah perusahaan. Terlalu banyak perusahaan yang berkata bahwa karyawan sangat penting, namun gagal untuk menindaklanjuti dengan menerapkan kebijakan sumber daya manusia yang mampu memberdayakan mereka untuk mengembangkan hubungan yang kuat dengan para karyawan. Para pemasok juga merupakan elemen penting dalam penciptaan produk dan jasa, tetapi perusahaan sering tidak berusaha cukup keras untuk mengembangkan hubungan dengan pemasok. Hanya ketika pemasok gagal memenuhi deadline atau meninggalkan bisnis, barulah perusahaan mulai berpikir tentang pentingnya memiliki pemasok yang dapat dipercaya.</p>
<p><em>Stakeholder</em> lain, seperti anggota jaringan, pemegang saham, media dan komunitas di mana perusahaan beroperasi, juga penting bagi sukses jangka panjang perusahaan.</p>
<p>Perusahaan harus menyadari bahwa penting untuk berusaha memperkuat hubungan dengan masing-masing <em>stakeholder</em> dan bahwa pendekatan terintegrasi untuk mengembangkan hubungan-hubungan ini adalah salah satu cara yang efektif untuk memastikan bahwa hubungan itu tumbuh dan berkembang. Untuk itu, dibutuhkan suatu prinsip hubungan yang bisa membentuk rantai nilai yang berfokus pada pelanggan sebagai pusat dari operasional perusahaan dan <em>stakeholder</em> lain memberikan dukungan kepada perusahaan dalam memenuhi kebutuhan kebutuhan pelanggan.</p>
<p><strong>Pentingnya Hubungan Karyawan</strong></p>
<p>Sukses perusahaan dalam menghantarkan pelayanan istimewa tergantung pada kemampuannya untuk memuaskan karyawan dan mendorong mereka berkomitmen untuk memuaskan pelanggan dalam jangka panjang, karena para karyawanlah yang berinteraksi setiap hari dengan pelanggan, baik langsung maupun tidak.</p>
<p><strong>Sebuah perusahaan yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang positif dengan karyawan yang memiliki motivasi dan komitmen, akan menciptakan <em>return of order</em> yang lebih baik.</strong> Hal itu karena karyawan bersama perusahaan bersedia untuk bekerja ekstra demi memenuhi kebutuhan pelanggan.</p>
<p>Tentang motivasi ini, Ijeomda Ross menyatakan, “Masalahnya bukan uang. Apa yang Anda bayarkan pada karyawan, keuntungan yang Anda berikan pada mereka, mungkin penting untuk membuat mereka bekerja. Tetapi untuk mendapatkan hasil terbaik dari investasi Anda tergantung pada bagaimana Anda memperlakukan mereka.” [Ijeomda Ross, <em>“It Takes More Than Money to Enerjize Employees”</em>, dalam <em>Secrets of Customer Relationship Management</em>, James G. Barnes].</p>
<p>Oleh : Bey Laspriana</p>
<p>Founder &amp; Owner Syafa’at Marcomm – Syariah Marketing Communication</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-keunggulan-kompetitif-dengan-relationship-management/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/berjibaku-menjadi-manusia-pembelajar/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/berjibaku-menjadi-manusia-pembelajar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 08:44:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1194</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan hidup terus menggelinding; dan roda peradaban zaman terus bergerak menyusuri jalan yang teramat panjang. Dalam putaran itu, pengetahuan terus bermekaran dan rajutan ilmu tiap hari selalu hadir menyapa tanpa kenal letih. Itulah kenapa segenap insan dituntut untuk bisa menjadi manusia-manusia pembelajar  : menjadi insan yang selalu terbuka dengan segenap wawasan baru dan limpahan informasi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2011/12/learner.jpg" alt="learner Berjibaku menjadi Manusia Pembelajar" width="150" />Perjalanan hidup terus menggelinding; dan roda peradaban zaman terus bergerak menyusuri jalan yang teramat panjang. Dalam putaran itu, pengetahuan terus bermekaran dan rajutan ilmu tiap hari selalu hadir menyapa tanpa kenal letih. Itulah kenapa segenap insan dituntut untuk bisa menjadi manusia-manusia pembelajar  : menjadi insan yang selalu terbuka dengan segenap wawasan baru dan limpahan informasi yang terus melaju. Menjadi insan yang selalu rindu untuk merengkuh sejumput pengetahuan, dan menjemput sekeping kebajikan dari bentangan ilmu yang terus mengalir.</p>
<p><span id="more-1194"></span>Belajar disini tentu saja tidak hanya terbatas pada dinding-dinding sekolah atau kampus atau ruang seminar. Menurut pengalaman saya (yang mungin bersifat subyektif) menjadi pembelajar sejati justru paling efektif dilakukan melalui model <strong>self-directed learning</strong>. Bahasa kampungnya : belajar sendiri secara otodidak. Jika bicara mengenai self-directed learning (atau belajar secara otodidak), maka ada dua sumber fundamental yang hadir untuk merekahkan proses pembalajaran secara optimal.</p>
<p><strong>Sumber yang pertama adalah : membaca</strong>. Lebih khusus lagi : membaca buku-buku bermutu (bukan membaca tabloid infotainment atau majalah lifestyle abal-abal).</p>
<p>Membaca buku-buku yang berkualitas, tak pelak, merupakan ritual indah yang akan selalu membawa kita terbang menjelajah dunia ilmu pengetahuan yang begitu menggetarkan. Bagi para pembelajar sejati, ritual membaca buku memang seperti sebuah persetubuhan yang menghanyutkan. Disana terjalin dialog pemikiran yang intim. Disana terbentang lenguhan gagasan yang terasa begitu eksotis. Dan disana pula kita bisa tenggelam dalam apa yang acap disebut sebagai “<strong>beautiful learning orgasm</strong>”.</p>
<p>Jadi, omong-omong, berapa jumlah buku atau majalah bermutu yang Anda baca dalam sebulan? Kata para pakar, sebaiknya empat. Namun kalau tidak bisa ya minimal satu dong. Jadi dalam setahun setidaknya ada 12 buku bagus yang kita kunyah dan pelajari. Akan lebih bagus lagi, jika setiap buku yang kita baca kemudian coba dituliskan rangkuman isinya. Kata ahli, menuliskan resume buku merupakan salah satu cara ampuh untuk meningkatkan pemahaman kita akan esensi buku secara lebih efektif.</p>
<p>Sumber utama kedua bagi proses self directed learning adalah ini : <strong>learn from our own experiences.</strong>Pengalaman adalah guru terbaik, begitu kata sebuah pepatah. Sungguh sebuah pepatah yang jitu. Benar, pengalaman – baik pengalaman positif atau lebih-lebih pengalaman buruk – selalu merupakan guru terbaik bagi proses pembelajaran kita.</p>
<p>Jika Anda seorang karyawan kantor, rangkaian penugasan dan pekerjaan yang Anda lakoni sungguh memberikan bentangan pengalaman yang berharga. Memang, pengalaman ini akan menjadi pelajaran yang berharga jika penugasan dan pekerjaan itu merupakan deretan tugas yang menantang, kompleks dan menuntut kapasitas kita secara maksimal. Rangkaian <em>penugasan yang challenging</em> itu niscaya akan menjadi proses pembelajaran yang sangat kaya bagi pengembangan diri kita.</p>
<p>Jika Anda seorang wirausaha atau calon wirausaha, proses ikhtiar Anda untuk membuka usaha, mencari pasar, membuat produk Anda laku, sungguh merupakan rute pembelajaran yang sangat kaya nan berharga. Coba, gagal, coba lagi, gagal lagi, terus mencoba, terus berusaha, terus gigih bertahan mencari siasat agar bisnis terus bertahan dan tumbuh. Proses yang keras dan melelahkan ini, kadang menguras emosi dan dana yang tak sedikit, tentu merupakan arena pembelajaran yang ampuh. Sebuah arena untuk mendidik kita menjadi insan pembelajar yang sukses dan produktif.</p>
<p>Demikianlah dua sumber utama proses pembelajaran secara mandiri (otodidak). Belajar melalui buku untuk terus meluaskan wawasan. Dan belajar melalui pengalaman nyata untuk mewujudkan impian menjadi insan yang sukses.[]</p>
<p>Sumber: <a href="http://strategimanajemen.net/2010/06/28/menjadi-manusia-pembelajar/">http://strategimanajemen.net/2010/06/28/menjadi-manusia-pembelajar/</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/berjibaku-menjadi-manusia-pembelajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meraih Cinta Ilahi</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-cinta-ilahi/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-cinta-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 08:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hidup Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1190</guid>
		<description><![CDATA[Muslim manapun tentu amat berharap dapat meraih cinta suci Allah Rabbul ‘Izzati. Masalahnya, tak setiap Muslim benar-benar mewujudkan harapannya itu dengan sungguh-sungguh meraih cinta-Nya yang sejati. Sering harapannya itu hanya terbersit di lubuk hati dan sekadar terucap di ujung lisan, tidak sampai termanifestasikan dalam perbuatan. Padahal meraih cinta-apalagi cinta suci Ilahi-tentu mengandung konsekuensi dan butuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Meraih Cinta Ilahi" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2011/12/taqarrub.jpg" alt="taqarrub Meraih Cinta Ilahi" width="150" />Muslim manapun tentu amat berharap dapat meraih cinta suci Allah Rabbul ‘Izzati. Masalahnya, tak setiap Muslim benar-benar mewujudkan harapannya itu dengan sungguh-sungguh meraih cinta-Nya yang sejati. Sering harapannya itu hanya terbersit di lubuk hati dan sekadar terucap di ujung lisan, tidak sampai termanifestasikan dalam perbuatan. Padahal meraih cinta-apalagi cinta suci Ilahi-tentu mengandung konsekuensi dan butuh pembuktian, bukan sekadar klaim dan angan-angan. Lalu apa konsekuensi dan pembuktiannya?</p>
<div>
<p><span id="more-1190"></span>Allah SWT sendiri menjawab pertanyaan ini dengan berfirman (yang artinya): Katakanlah (Muhammad), <em>“Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Dia akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang</em>(TQS Ali Imran [3]: 31).</p>
<p>Ayat ini turun saat orang-orang Yahudi mengklaim di hadapan Baginda Nabi SAW, “Kami adalah anak-anak Allah dan para kekasih-Nya.”</p>
<p>Manakala mereka mengklaim demikian, Allah SWT menyuruh kekasihnya, Baginda Rasulullah, untuk menyatakan kepada mereka, “Kalau memang begitu, ikutilah aku.”</p>
<p>Sebagai ‘imbalannya’, Allah SWT pun akan mencintaihamba yang mencintai Dia, sekaligus mengampuni dosa-dosanya (Lihat: Muhammad ‘Alan ash-Shiddiqi, Dalil al-Falihin li ath-Thuruq Riyadh ash-Shalihin, II/213).</p>
<p>Dengan demikian, cinta sejati Allah Yang Mahasuci akan kita raih semata-mata jika kita mengikuti Baginda Nabi SAW. Lalu apa di antara tanda bahwa Allah SWT mencintaihamba-Nya? Dalam hal ini Allah SWT berfirman (yang artinya): Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian murtad dari agama Allah, Allah pasti akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai Dia; mereka bersikap lembut kepada kaum Mukmin dankeras terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; mereka tidak takut terhadap celaan para pencela. Itulah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas dan Mahatahu (TQS al-Maidah [5]: 54).</p>
<p>Ayat ini menghubungkan realitas orang-orang yang Allah cintai itu dengan orang-orang yang senantiasa bersikap lembut kepada kaum Mukmin, keras terhadap kaum kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan para pencela.</p>
<p>Selain itu, di antara tanda bahwa Allah mencintai hamba-Nya tersurat dalam sebuah hadits qudsipenuturan Abu Hurairah ra. Disebutkan bahwa Baginda Nabi SAWpernah bersabda, “<em>Siapa saja yang memusuhi wali-Ku, maka ketahuilah bahwa Aku telah memaklumkanperang terhadap dia. Tidaklah seorang hamba ber-taqarrub kepada Diri-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada perkara yang telah Aku wajibkan kepada dirinya. Seorang hamba terus-menerus bertaqarrub kepada Diri-Ku dengan amalan-amalan nafilah hingga Aku mencintai dia. Jika Aku mencintai dia, Aku menjadi pendengarannya yang dengan itu dia mendengar; menjadi penglihatannya yang dengan itu dia melihat; menjadi tangannya yang dengan itu dia meraba; menjadi kakinya yang dengan itu dia berjalan. Jika dia meminta kepada Diri-Ku, Aku pasti mengambulkan permintaannya. Jika dia meminta perlindungan-Ku, Aku pun pasti melindungi dirinya.</em>” (HR al-Bukhari).</p>
<p>Dari hadits qudsi ini dapat dipahami bahwa cinta Allah SWT kepada hamba-Nya memiliki sejumlah tanda. Pertama: Allah SWT senantiasa menjaga pendengarannya dari hal-hal yang haram untuk didengar, seperti ghibah (menggunjingkan aib orang lain) dan namimah (mengadu-domba) dan yang semisalnya. Kedua: Allah SWT senantia menjaga pandangannya dari perkara-perkara yang haram untuk dipandang (misal: pornografi dan pornoaksi, pen.). Ketiga: Allah SWT senantiasa menjaga tangannya dari menyentuh hal-hal yang haram (misal: menggandeng atau merangkul wanita asing [ajnabi], pen.). Keempat: Allah SWT senantiasa menjaga langkahnya sehingga tidak melangkah ke tempat-tempat yang diharamkan. Dengan demikian, Allah SWT senantiasa mememelihara dirinya dan anggota tubuhnya hingga terlepas dari syahwat dan sebaliknya tenggelam dalam ketaatan. Dengan itu, pendengaran, pandangan, tangan dan langkahnya tidak digunakan kecuali yang memang sesuai dengan tuntunan syariah.Kelima: Allah SWT mengabulkan permohonannya saat ia memohon kepada-Nya. Kelima: Allah SWT melindungi dirinya saat ia memohon perlindungan-Nya (Muhammad ‘Alan ash-Shiddiqi, Ibid., II/215).</p>
<p>Terkait dengan orang-orang yang Allah cintaiini, Baginda Nabi SAW<a name="_GoBack"></a>juga bersabda, “Jika Allah SWT mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sesungguhnya Allah SWT mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintai dia. Jibril lalu menyeru penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah oleh kalian dia.’ Penduduk langit pun mencintai dia. Kemudian ia pun diterima dan dicintai penduduk bumi.” (Mutaffaq ‘alih).Semoga kita dapat meraih cinta sejati, cinta AllahRabbul ‘Izzati. <em>Wa ma tawfiqi illa bilLah</em>.[]abi</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/meraih-cinta-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitos Bank Di Benak Pengusaha</title>
		<link>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mitos-bank-di-benak-pengusaha/</link>
		<comments>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mitos-bank-di-benak-pengusaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Dec 2011 05:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz341</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis Berkah]]></category>
		<category><![CDATA[Slide News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.hidupberkah.com/?p=1180</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di kalangan pengusaha muslim yang percaya mitos, celakanya mereka menganggap mitos tersebut adalah fakta dan realita yang sebenarnya.  Padahal mitos tersebut dapat membahayakan diri dan keluarganya. Salah satunya adalah mitos tentang Bank, pengusaha muslim terpengaruh dengan propaganda kapitalisme yang menyatakan “Bisnis tidak akan maju tanpa ‘bantuan’ Bank”.  Mitos seperti ini sangat berbahaya bila dianggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="float: left;" title="Mitos Bank Di Benak Pengusaha" src="http://www.hidupberkah.com/wp-content/uploads/2011/12/Riba.jpg" alt="Riba Mitos Bank Di Benak Pengusaha" width="150" />Banyak di kalangan pengusaha muslim yang percaya mitos, celakanya mereka menganggap mitos tersebut adalah fakta dan realita yang sebenarnya.  Padahal mitos tersebut dapat membahayakan diri dan keluarganya.</p>
<p>Salah satunya adalah mitos tentang Bank, pengusaha muslim terpengaruh dengan propaganda kapitalisme yang menyatakan <strong>“Bisnis tidak akan maju tanpa ‘bantuan’ Bank”</strong>.  Mitos seperti ini sangat berbahaya bila dianggap sebagai realitas yang benar, karena dapat menjatuhkan diri seorang pengusaha pada perbuatan haram.</p>
<p><strong><span id="more-1180"></span>Benarkah Bisnis Membutuhkan “Bantuan” Bank ?</strong></p>
<p>Kesalahan pertama dari mitos ini adalah Bank tidak memberikan bantuan melainkan ia sedang berbisnis dengan Anda dengan sistem ribawi yang sangat dilarang dalam Islam.  Dosa paling ringan dari riba adalah seperti menzinahi ibunya sendiri, Rasul SAW bersabda :</p>
<p><em>Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang menzinahi ibunya.</em><em> </em>(HR al-Hakim dan al-Baihaqi).</p>
<p>Karena bisnis, maka bank menentukan kriteria yang bisa menerima pinjaman, yakni pengusaha dengan usaha yang “<em>bankable</em>”.  Bank tidak akan memperhatikan usaha-usaha yang tidak layak atau yang tidak memberi keuntungan cukup. Oleh karena itu sangat jarang bank mau berbisnis dengan pengusaha pemula.</p>
<p>Saat pengusaha baru mulai berbisnis jarang bank mau memberi “bantuan” keuangan, dibutuhkan waktu minimal 3 tahun karena bank biasanya meminta laporan keuangan perusahaan selama  3 tahun terakhir.  Jika suatu bisnis mampu bertahan 3 tahun bahkan meningkat penghasilannya, menunjukan bahwa bisnis ini sudah benar berjalan.  Pengusahanya pun sudah memiliki pemahaman dan pengalaman mengelola usahanya tersebut.</p>
<p>Sayangnya karena ada mitos bahwa untuk maju harus dengan “bantuan” bank,  pengusaha yang sudah berhasil membesarkan usahanya ini seperti  kerasukan setan dan kehilangan kewarasannya dengan memilih jalan haram.</p>
<p>Bank bukanlah kantung ajaib yang menjamin apa yang kita inginkan pasti terjadi.  Sekalipun sudah mendapatkan pinjaman dari bank, pengusaha tetap harus bekerja keras, tekun dan senantiasa mencari solusi atas berbagai kendala yang dihadapi, namun kali ini tanpa keberkahan dari Allah SWT. Sebagaimana hadits Rasul SAW.</p>
<p>Dari Abu Hurairah RA dia berkata: Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p><em>“</em><em>Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (</em><strong><em>QS. Al-Mukminun: 51)</em></strong><em>”</em> <em>dan Dia juga berfirman,</em> <em>“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (</em><strong><em>QS. Al-Baqarah: 172)</em></strong><em>”</em></p>
<p><em>Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.</em><em> (</em><strong><em>HR. Muslim).</em></strong></p>
<p>Tak berbilang jumlahnya, pengusaha yang bangkrut walaupun sudah mendapat pinjaman bank.  Bahkan setelah bisnisnya hancur iapun harus merelakan hartanya disita, guna melunasi hutangnya kepada bank.</p>
<p>Memang ada pengusaha yang bisnisnya semakin mencorong setelah mendapatkan pembiayaan dari bank, namun kesuksesan tersebut hakekatnya tidak ada artinya karena seumur hidup ia akan mendapat stempel di dahinya sebagai “Pengusaha Muslim Sukses Dengan Cara Haram”.  Status yang seharusnya membuat ia malu bukan bangga, apalagi di akherat nanti menunggu adzab yang pedih.</p>
<p>Jika sama-sama harus bekerja keras, tekun dan kreatif mengapa tidak memilih berbisnis dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam saja.  Sehingga kesuksesan yang diraih akan dipenuhi keberkahan dari Allah SWT dan yang lebih penting kita telah menyelamatkan diri dan keluarga dari api neraka.  Allah SWT berfirman :</p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”</em> (QS. Attahrim [66] : 6).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.hidupberkah.com/slide-news/mitos-bank-di-benak-pengusaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

