UPDATE INFO:

The PowerFULL of STORYTELLING

Testimoni

Masukkan email disini untuk berlangganan
Artikel Bisnis :

Delivered by FeedBurner

No Banner to display

No Banner to display

No Banner to display

No Banner to display

No Banner to display

Twitter Resmi kami :

Created by: twitter website widget

Temukan Kami di Facebook :

October 21st, 2011 by moesa ismail

storytelling The PowerFULL of STORYTELLINGKalau saya Tanya kepada peserta SEMINAR MOTIVASI atau pembelajaran praktis  UTHB (Ummat TERBAIK Hidup BERKAH) tentang bagian acara yang mereka ingat, banyak yang bilang: “sesi perjalanan 4 dimensi dan mimpi Rasulullah”. Saya heran waktu itu, kok bisa? Padahal banyak konsep dan kasus muktahir yang kita sajikan dalam training tersebut.

Well, ternyata audience tergerak oleh kisah dan emosi. Emosi ini tidak bisa disampaikan lewat konsep dan kasus bisnis. Emosi dibangun lewat cerita yang menyentuh hati dan (kalau bisa) dikemas dengan paduan musik dan gambar yang menyentuh. Lucunya, kami selaku fasilitator UTHB yang sudah lebih dari 75 kali tampil di panggung (stage) pun masih sering lupa fakta sederhana ini.

Penyampaian cerita yang menggugah emosi lebih dikenal di dunia entertainment dibandingkandunia edukasi bisnis. Namun tetap merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam SELLING . Hal ini sangat disadari oleh fasilitator, presenter maupun salesman yang handal. Maka dari itu, seorang master PERSONAL GROWTH atau great salesman seperti pak Samsul Arifin (dan para pembicara piawai lainnya), selalu meramu presentasi sedekat mungkin dengan suasana entertainment (para fasilitator UTHB selalu berkata: “kita sekarang terjun dalam dunia ‘show biz’) lengkap denga cerita-cerita seru. Konteks seperti ini terutama amat banyak ditemukan di kalangan pembicara motivasi – kunci keberhasilannya adalah menggodok emosi lewat cerita, bukan hanya dengan data saja.

Dalam teknik persuasi (mem-propose sebuah ide kepada pendengar) maupun insepsi (memasukkan sebuah ide ke dalam alam bawah sadar audience), pendekatan indirect yang disampaikan dalam konteks cerita menarik akan lebih mudah diterima dan diingat oleh audience. Di dunia sales & marketing kita selalu diingat, “kreativitas tidak berarti apa-apa jika tidak memiliki kekuatan sugesti.!”

Kita tertarik membedah kasus “cerita bersambung” ala Axis (Joni Blak-blakan) atau XL (Anak turunan ke delapan). Perhatikan serial Anak turunan ke delapan dari XL yang menggambarkan drama kehidupan seorang pengemis (yang tentu saja hidup nya terjadi perubahan besar karena selalu menggunakan XL) – benar-benar keluar dari clutter  iklan produk telekomunikasi pada umumnya. Lebih memorable pastinya! Memorable secara brand dan juga secara iklan (note: jangan sampai audiens juga hanya ingat pada iklan nya saja, dan lupa brand nya). Maka, untuk seminar motivasi/workshop berikutnya, kami berencana membahas kasus ini secara mendalam dari aspek artistic maupun komersil.

No Story, No WOM (Tanpa Story, Tak Akan Ada Word-Of-Mouth)

Teknik storytellingtidak hanya bisa dijalankan lewat iklan. Kasus klasik Harley Davidson, yang bisa menjadi brand yang sedemikian hebat, itu karena rumusan:

CHARACTER = BRAND + STORY

Harley bisa jadi “Character” (sebuah brand yang hidup, terasa begitu dekat dan nyata dengan kehidupan pelanggannya) karena keberadaan brand Harley begitu syarat dengan 1001 macam kisah seputar pengendaraan Harley Davidson.

Untuk menjadikan brand Anda sebuah Character, maka konsep dari brand tersebut harus detail. Who, What, When, Which, How seputar brand harus dijawab. Unsur yang paling penting adalah Core Values (apa nilai, doktrin atau kepercayaan yang dianut oleh penganut brand. Contoh Harley Davidson Owners menganut values “brotherhood”), Behaviour (prilaku, misalnya perilaku bicara dan tindakan yang “slenge-an”), Style (gaya, misalnya berpakaian jaket kulit), dan Words (kata-kata, misalnya istilah mesin dan destinasi tujuan kendaraan).

Maka dari rumusan story, atau cerita yang bagus adalah cerita yang mengandung setting & introduction (latar belakang yang menggambarkan character di awal cerita), problem & conflict, climax, falling action (kejadian paska climax), dan resolution (pencerahan).

Tidak seharusnya sebuah brand selalu ditampilkan sebagai “jagoan” yang tidak pernah kalah. Karena di era New Wave yang serba transparan, mudah sekali beredar kabar tentang baik-buruknya sebuah brand/produk maupun seseorang. Stories yang bagus bersifat manusiawi, kadang-kadang menunjukan juga “kelemahan” seseorang atau sebuah brand – karena, siapa sih yang sempurna? Justru dengan mengakui perkembangan dan jatuh – bangunnya brand kita (pada taraf-taraf yang wajar), justru akan menimbulkan simpati audience kepada kita. Anda setuju?

Dapatkan informasi lebih lengkap dengen mengikuti pembelajaran praktis Ummat Terbaik Hidup Berkah (UTHB). Silahkan sesuaikan jadwal Anda dan kota terdekat untuk pelaksanaan UTHB di www.HidupBerkah.com. Segera daftarkan diri, mitra bisnis, client, team, dan keluarga Anda di www.HidupBerkah.com, sekarang juga! Selamat datang di zona berkah![]

By. Djula Widjaja

Link Terkait:

2 Responses

  1. [...] apa yang terjadi setelah itu, bisnis yang dia geluti belum juga berjalan sesuai dengan harapannya sampai pada titik dia kehabisan modal [...]

  2. [...] aspek manajemen, investor lebih menyukai bisnis yang telah berjalan dan telah memiliki sistem yang kuat serta SDM yang [...]

Leave a Reply




close