UPDATE INFO:

News Flash

Testimoni Akhmad Adiasta

‎”Alhamdulillaah, setelah menemukan momen yang tepat, akhirnya saya dapat berbagi indahnya UTHB dan impian-impian saya bersama anggota keluarga, ayah, ibu dan adik2. Insya Allooh mulai pagi ini, kami sekeluarga telah melihat kehidupan dengan cara yang lebih positif dan berkomitmen melakukan hal-hal mulia. Thanks goes to Samsul Arifin dan kru Ummat Terbaik Hidup Berkah. Kami nantikan kehadirannya di Jawa Timur.” By: Akhmad Adiasta alumni UTHB #66 Semarang

No related posts.

Solusi Pemasaran Berkah

June 17th, 2011 by hafidz341

 Solusi Pemasaran Berkah

Bila kita menilik perkembangan periklanan modern yang muncul sekitar tahun 1945 an sampai sekarang, maka desain iklan yang tampil di berbagai media hampir-hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan. Produk-produk kecantikan seperti alat kosmetika, sabun, shampoo, dan lain-lain masih menggunakan gambar sosok wanita cantik yang membuka aurat. Hal ini merupakan suatu kesengajaan karena aurat yang dipertontonkan dalam iklan-iklan tersebut memang ditujukan untuk memperlaris dan mempermudah produsen  dan pengiklan dalam memasarkan produknya. Tak jarang rekayasa dengan menggunakan digital imaging (rekayasa digital) dalam iklan cetak maupun iklan televisi selalu dilakukan, sehingga noda sekecil apapun yang menempel di kulit sang model akan hilang dengan mudah, bahkan setitik tahi lalat pun bisa dihilangkan sesuai kehendak hati. Maka terciptalah imaji berupa kulit yang halus, mulus, putih yang siap menjajakan produk-produk kecantikan. Terus dan terus dilakukan dari masa ke masa seiring dengan teknologi media dan hingga kini masih jamak menjadi cara yang ampuh untuk ditempuh.

Tidak berhenti sampai di situ, menjajakan produk dengan mengumbar aurat, bahkan kalau perlu melakukan pose telanjang menjadi perkara yang seringkali dilakukan pengiklan kelas dunia. Giorgio Armani  misalnya, ketika memasarkan produk underwear for men menggunakan endorser David Beckham, satu dari pemain sepakbola termahal di dunia. Tanpa malu, giant banner-nya dengan mudah ditonton ribuan wanita pada saat launching. Targetnya, para wanita itu akan membujuk suami ataupun pacarnya untuk membeli dan mengenakannya (yang menurut mereka agar keren) seperti Beckham. Selain aurat, kisah cinta dua orang lawan jenis yang tidak terikat tali pernikahan juga menjadi bumbu iklan sepanjang masa tidak terkecuali pada  produk untuk konsumen anak-anak… Sungguh sangat menyedihkan.

Di sisi lain, iklan yang memuat representasi pemikiran-pemikiran kapitalisme dengan buaian gaya hidup hedonis  juga sosialisme  merebak, seolah perusahaan kreatif merasa aman karena sudah tidak mengumbar pornografi. Namun jangan salah, iklan yang merepresentasikan pemikiran-pemikiran tersebut tidak kalah berbahayanya untuk ummat. Inilah kreativitas bebas nilai a la Kapitalisme yang telah sukses memasukkan ide-ide yang bertentangan dengan syariah. Iklan dijadikan sebagai alat ampuh untuk membius ummat dengan mengumbar janji, membujuk ummat mengkonsumsi hal yang tidak perlu menjadi seolah perlu, membujuk untuk memuaskan nafsu “keinginan” yang tidak berdasar “kebutuhan”…semua dikemas dalam balutan gengsi ataupun alasan gaya hidup.

Lalu bila sedemikian rusaknya periklanan ala Kapitalis, bagaimana seharusnya periklanan yang syariah itu? Apa beda periklanan yang syariah dengan yang konvensional? Bagaimana caranya agar iklan kita sesuai dengan syariah?
Beberapa pertanyaan tersebut otomatis akan terjawab apabila kita memahami gambaran umum bagaimana seharusnya seorang muslim beriklan ketika menawarkan produknya.

1.    Dalam membuat iklan harus didasari atas aqidah dan syariat Islam. Kreativitas ternyata tidak bebas nilai, sama dengan status perbuatan dalam aktivitas lainnya. Termasuk produk yang diiklankan, harus merupakan produk-produk halal, bukan yang diharamkan.
Pandangan ini biasanya akan berbenturan dengan pendapat sebagian besar masyarakat yang menyatakan bahwa kreativitas yang dibatasi oleh agama akan menjadi kreativitas yang terpasung sehingga membuat masyarakat dipaksa menjadi tidak cerdas! Padahal justru sebaliknya, banyak contoh menunjukkan bahwa semakin banyak batasan-batasan dalam periklanan, justru akan mendorong orang-orang kreatif untuk menggali lebih dalam lagi dan akan menghasilkan karya yang luar biasa di luar dugaan kita.

2.    Iklan harus jujur menyampaikan hal apa adanya, tidak membohongi konsumen. Berbicara jujur mengenai produk yang ditawarkan adalah hal yang mutlak. Sebagai misal, Kalau memang sebuah minuman rasa buah bukan terbuat dari buah asli, tetapi terbuat dari perpaduan larutan kimia sehingga menghasilkan rasa buah jeruk, maka katakan sesungguhnya. Membohongi konsumen akan berdampak buruk bagi brand tersebut. Kalau tidak dirasakan sekarang, bisa jadi jangka panjang.

3.    Tidak boleh berkesan produknya yang paling baik dibandingkan produk lainnya. Dengan menuliskan awalan ‘ter’… misalnya : terbaik, terharum, menuliskan bahwa produknya adalah nomer satu, paling baik, paling hebat/terhebat. Hal ini tidak boleh dilakukan karena tidak sesuai dengan akhlak Islam. Khusus point ini, juga telah tercantum dalam Buku Etika Pariwara Indonesia terbitan P3i (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia).

4.    Menciptakan iklan yang bernuansa edukasi. Apabila memang ingin memberikan informasi dalam iklan dengan informasi yang selengkap-lengkapnya, tidak perlu menyampaikannya secara berlebihan. Cukup dengan informasi yang cukup. Dikemas secara kreatif, tidak menggurui tetapi target memahami pesan yang disampaikan. Dengan demikian aspek edukatif akan tercapai.

5.    Terakhir, periklanan syariah sebagai salah satu cara untuk berdakwah sekaligus mempromosikan produk. Tunjukkan bahwa baik barang maupun jasa bisa juga menjadi cara/ uslub untuk menunjukkan kreatifitas dan indahnya Islam. Keindahan Islam tidak harus diidentikkan dengan ikon masjid, sajadah, tasbih, peci, baju koko, kubah, jubah, kalau memang produk yang dijual tidak ada hubungannya dengan itu. Keindahan Islam dapat muncul ketika pengiklan secara cermat mempelajari insight produknya, atau menemukan brand essence-nya, mengenali target audience-nya, memahami consumer journey-nya, melakukan analisis sederhana sehingga menghasilkan “what to say” dan “how to say” yang kreatif.

Allah memberi kita segenap kemampuan untuk berkreasi, dan kekuatan ketaatan sekaligus. Tergantung eksplorasi dan pembelajaran kita. Akan mampu menjual dengan kreatif atau biasa-biasa saja, semua ada di tangan kita! Semoga Sukses!

Oleh : Andika Dwijatmiko
Praktisi Advertising Syariah

sumber : http://pengusaharindusyariah.com/

No related posts.

Leave a Reply